Riau, The Homeland of SMOKE!

  • Wednesday, September 16, 2015
  • By Muhammad Hafiz
  • 0 Comments


Riau. Iya. Provinsi yang terletak dekat Sumatera Barat ini sudah menjadi The Homeland of Melayu, karena orang Riau memang kebanyakan Melayu, termasuk aku sendiri. Tetapi yang tidak asing di Riau adalah KABUT ASAP nya. Iya, kabut asap! Kenapa? Karena tiap tahun kabut asap selalu saja datang ke Kota Melayu ini, sampai-sampai orang-orang disini harus bertahan dan melawan kabut asap ini.

 Di tahun 2015 ini Kabut Asap yang terjadi di Riau sudah bisa dibilang sangat PARAH, kenapa parah? Iya karena di indeks udara saat ini sudah berstatus BERBAHAYA dan sampai-sampai dari PAUD, SD, SMP/MTS, SMA/SMK diliburkan untuk menghindari penyakit ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut).

Kalo berbicara tentang ISPA hmm bisa dibilang aku adalah salah satu korban bencana kabut asap ini sendiri, aku terkena ISPA karena bencana kabut asap yang terjadi pada tahun 2014 yang lalu. Setiap hari itu bisa dibilang aku keluar masuk rumah sakit untuk check up masalah yang ada pada pernafasan ku ini. Pada Bulan Ramadhan 2015 kemarin aku pun mengeluh kepada nyokap tentang batuk yang terjadi ini dan akhirnya pada lebaran 2015 yang lalu aku pun pergi ke Malaka untuk berobat di Rumah Sakit Mahkota Medical Centre, rumah sakit yang sangat populer oleh semua orang di Sumatera dan rata-rata yang berobat disini adalah orang Sumatera. 

 Aku bertemu dengan Dr. Ashok Philip, lulusan dari salah satu Universitas di UK ini sangat tau apa yang terjadi di pernafasan ku ini. Dia menanyakan semua hal yang aku lakukan, dari apa olahraga yang aku jalani, apakah aku merokok dan semua yang menyangkut yang ke pernafasan. Akhirnya aku disuruh untuk di test pernafasan aku ini, sebelum itu aku harus ambil sampel darah, di rontgen dan akhirnya baru ke lantai 5 untuk di test pernafasan. Didalam sana aku ditemani oleh Suster yang baik, dia menanyakan apa masalah yang ada pada pernafasan ku ini, dia menanyakan semuanya dan aku menjawab apa yang aku tau saja. 

Dan akhirnya pernafasan aku di test, aku disuruh menarik nafas aku lebih dalam dan menghembus nya kembali kedalam alat yang dimasukkan ke dalam mulut ku. Suster itu pun melihat hasil nya di layar komputer itu. Dan setelah melakukan 5x test, akhirnya aku disuruh keluar untuk menunggu hasil test tersebut. Diluar sambil menunggu hasil test itu aku selalu kepikiran apa yang terjadi pada pernafasan ku ini, ada masalah kah? Atau apa? Dan tidak berapa lama aku pun dipanggil oleh Suster yang tadi dan dia memberikan hasil test itu kepadaku. Setelah itu aku pun harus menemui kembali Dr. Ashok Philip di ruangannya.

 Diruangan Dr. Ashok Philip aku harus menunggu lagi karena ada pasien yang berobat juga dan tidak berapa lama nama ku dipanggil kembali. Aku pun disuruh duduk dekat Dr. Ashok Philip dan dia pun membuka semua hasil test yang aku jalanin, dari sampel darah, rontgen dan hasil test pernafasan yang aku jalani tadi. Dan setelah dia lihat akhirnya Dr. Ashok Philip pun mendiagnosa bahwa aku terkena Asma. Ya. Penyakit yang paling dihindari oleh semua orang didunia. Kenapa paling dihindari oleh semua orang? Karena penyakit ini sangat menganggu pekerjaan sehari-hari. Setelah Dr. Ashok Philip mendiagnosa bahwa aku terkena Asma, aku hanya bisa terdiam. Dr. Ashok Philip juga bilang kalo Asma aku belum terlalu parah kali karena aku sudah membawa langsung untuk diobati. 

Dan akhirnya aku pun keluar dari ruangan Dr. Ashok Philip dan aku pun mengabari ke nyokap yang ada di Pekanbaru, aku bilang kalo aku terkena Asma. Kaget? Sedih? Iya, keduanya itu sekarang menjadi perasaan ku setelah mendengar kalo aku terkena Asma. Dan akhirnya aku pun ke lobby untuk mengambil obat, aku diberi obat untuk 3 bulan dan setelah 3 bulan aku pun harus check up kembali ke Malaka untuk melihat perkembangan Asma ku ini. 

  Dan ada juga di Pekanbaru, seorang anak yang juga sudah terkena penyakit pernafasan dan karena kabut semakin tebal, akhirnya dia terkena gagal pernafasan. Dia dilarikan ke rumah sakit untuk diberi perawatan intensif, tapi Tuhan berkata lain. Anak itu pun pergi untuk selamanya. Ya. Karena kabut asap, semua penyakit menjadi datang. Pemerintah pada kemana? Kok tidak ada inisiatif untuk menghilangkan bencana ini? 

Apakah harus setiap tahun kami merasakan bencana ini? Apakah kami harus bertahan dengan bencana ini? Apakah harus menunggu korban selanjutnya baru bertindak? Kemanakah kami harus meminta pertolongan, kalo yang berkuasa tidak bisa mengatasinya? WTF?! Apakah tidak ada dirapatkan tentang masalah bencana ini? 

  Ya aku berharap masalah bencana kabut asap bisa diselesaikan dengan cepat, dan aku harap tidak ada korban selain aku dan korban yang tewas karena asap. Bantulah aku dan warga Riau lainnya dengan cara SHARE postingan ini ke semua social media yang ada :) #SaveRIAU


You Might Also Like

0 comments